Enggar Gareng Dot Net

27 Aug, 2008

Perjalanan ini terasa sangat menyedihkan..


Posted by: Enggar In: curhat| serba-serbi

Pernah dengar lagunya Ebit G.Ade yang syairnya kaya judul di atas? Dulu waktu ada bencana tsunami aceh, lagu ini yang paling sering saya denger, di tipi-tipi selalu ada. Tapi saya tidak akan berbicara mengenai lagu ini atau pun tsunami di Aceh. Saya pengen menceritakan pengalaman perjalanan saya yang lumayan penuh ‘kenangan’.

Mengingat hal ini sudah mendekati ramadhan dan lebaran, saya akan cerita pengalaman saya pulang kampung. Seperti biasa, tiap lebaran saya dan temen2 yang kuliah di Bandung pulang kampung ke Magelang, Jawa Tengah. Waktu itu lebaran kedua saya selama kuliah di Bandung, tahun 2006. Ternyata jadwal kuliah sampai H-3 lebaran. Wah, gak kaya pas jaman gusdur ya, puasa libur. Awal-awal bulan puasa, kami sudah mikir gimana mau baliknya nanti, mau naik apa. Secara kalau musim lebaran, pasti sulit cari angkutan umum dan harga pasti naik. Tadinya nyoba pesen tiket buat semua anak-anak Magelang di agen bis, ternyata tiket-tiket bis sudah habis dipesan orang, kami telat pesennya. Naek kereta api juga pasti penuh banget. Akhirnya kita sepakat untuk charter bis.

Akhirnya salah satu teman saya jadi tumbal ketua panitia untuk mudik ini. Setelah cari-cari akhirnya dia dapat charteran bis juga. Pas dia lihat ke tempat charterannya, katanya bisnya gak jelek-jelek amat. Walaupun harganya lebih mahal dari hari-hari biasanya kalau kami naik bis umum, tapi karena hasrat untuk pulang yang sudah tak tertahankan akhirnya kami setuju. Dan untung saja dulu belum ada kenaikan BBM kaya sekarang. Kami tinggal ngumpulin uang dan nunggu hari H pulang. Oiya, selain dari kampus saya, banyak juga temen-temen yang dari Poltekpos Bandung yang ikut rombongan kami.

Hari pulang pun tiba. Sore itu, sewaktu saya pulang dari beli Brownies untuk oleh-oleh, tiba-tiba saya melihat sudah ada bis di depan kampus saya. Bis yang jelek banget. Jlek, entah kenapa firasat saya tiba2 gak enak. Tapi karena katanya bis yang akan kami tumpangi bagus, akhirnya saya gak jadi berpikir kalau ternyata bis jelek itu yang akan kami tumpangi. Dan saya masih harus ke kosan buat ambil-ambil barang yang harus saya bawa pulang.

Habis maghrib saya berangkat ke depan kampus, karena katanya bisnya berangkat dari depan kampus saya. Dan ternyata firasat saya benar, setelah bertanya dengan sopir dan kernetnya, ternyata bis yang akan kami tumpangi adalah bis yang saya lihat sore tadi. Dalam hati berkata, “anjir! kok jadi jelek bisnya, padahal katanya bagus! Gila aja deh gw!” Bahkan temen saya yang pesan bisnya sampai gak percaya. Bis yang dijanjikan sama orang yang punya bis bukan bis itu, tapi bis yang dia lihat dan masih bagus. Ternyata bohong tu orang yang janji mau kasih bis bagus. Langsung saja saya dan teman-teman saling berpandang-pandangan, seolah-olah tidak percaya dari Bandung ke Magelang naik bis seperti itu.

Bayangkan saja, bisnya sudah penyok-penyok gitu, kayaknya sering nabrak ato gimana. Catnya juga dah pada mengelupas gitu. Kursi-kursinya keras dan sudah pada cacat gitu, kelihatan busanya. Dab tentunya bukan AC. Dan waktu itu sebelum berangkat kernet bisnya kaya periksa mesin gitu, kayaknya ada apa-apa dengan mesinnya. Saya pun jadi berpikir negatif, gimana kalau ntar di perjalanan mesinnya rusak atau kecelakaan. Gak mau banget deh!

Begitulah fenomena yang sering terjadi di Indonesia, keselamatan dan kenyamanan di nomor sekiankan. Yang sering jadi patokan adalah keuntungan finansial. Demi keuntungan, keselamatan penumpang pun dikorbankan. Perusahaan transportasi kadang enggan untuk mengeluarkan biaya untuk perawatan kendaraan karena menganggap tidak masalah kalau tidak dirawat. Mungkin kita pernah dengar di berita bahwa ada salah satu maskapai penerbangan yang menambal lubang di pesawatnya dengan selotip dan pesawat itu tetap digunakan untuk terbang. Dan betapa banyak kecelakaan pesawat yang sudah terjadi karena ketidaklayakan pesawat untuk terbang. Hingga akhirnya ada salah satu maskapai penerbangan yang ditutup. Saya juga sering lihat di daerah tempat tinggal saya ada bisa yang mengijinkan penumpang untuk naik di atap bis kalau di dalam bis sudah tidak muat lagi (sudah tidak bisa masuk bis lagi karena bagian pintu pun penuh orang yang bergelantungan). Sudah terlalu banyak kecelakaan akibat mengabaikan hal-hal yang dianggap sepele. Padahal karena kebodohan seperti itu, nyawa orang yang jadi taruhannya. Hal itu terjadi baik itu di transportasi udara, darat atau pun laut.

Kembali ke cerita tentang mudik, karena harus menunggu teman yang belum datang, jam 8 bis baru berangkat dari kampus saya menuju ke Poltekpos untuk menjemput teman-teman yang di sana. Ternyata sopir bis dan kernetnya yang orang Bandung tidak tahu jalan ke Poltekpos, akhirnya harus nyasar dan entah kenapa sering berhenti di jalan. Sekitar jam 9.15 malam baru sampai Poltekpos dan teman-teman dari poltekpos sudah pada kesal karena menunggu lama. Baru keluar dari Bandung sekitar jam 10.

Di dalam bis, rasanya tidak nyaman banget. Sudah panas, penuh sesak, lihat kondisi bisnya jadi tambah pusing. Dan entah bisnya ada shockbreakernya atau tidak, kalo ada jalan sedikit gak rata, pasti kerasa banget goncangannya. Bahkan di tol pun gak nyaman rasanya. Nyoba tidur, gak bisa-bisa juga, gak ada kenyamanan untuk tidur. Dan tiba-tiba perut saya juga mules. Dan tentunya di bis seperti itu tidak ada WC-nya. Wah, itu yang paling menyebalkan, saya harus menahan biar gak mencret selama semaleman, tanpa tidur! Ternyata perjalanan kami sangat lambat, jalanan macet banget. Dan karena sudah tidak tahan lagi, sekitar jam 2 kurang, saya minta ke sopir buat kalau ada masjid atau WC berhenti. Setelah agak lama akhirnya ada juga WC di pinggir jalan, akhirnya kami berhenti, dan saya tentu saja menuju WC karena memang sudah tidak bisa ditahan lagi. Sudah cukup tersiksa semalaman nahan biar gak keluar. Akhirnya jam segitu kami sekalian sahur. Dan tidak seperti biasanya, kami baru nyampai Tasikmalaya.

Sekitar jam 9 pagi kami baru sampai di suatu daerah di Banyumas. Dan bertambah lagi penderitaan perjalanan kami. Bis yang kami tumpangi mogok, ga bisa jalan, kayaknya masalah di mesinnya. Seperti bayangan saya sebelum berangkat. Akhirnya kami berhenti dan semuanya keluar bis. Sopir dan kondektur pun berusaha memperbaiki mesinnya. Kami pun hanya bisa menunggu. Tapi setelah sekitar satu setengah jam diperbaiki, bisa tetap gak bisa jalan, kami pun tertunduk lesu, gimana sampai rumahnya kalau kaya gini. Dalam hati juga pada kesal sendiri-sendiri. Bahkan teman saya sempat emosi, bilang kalau ketemu ma orang yang kemarin dipesenin bis itu, akan dihajar. Daerah itu juga jauh dari terminal.

Karena sudah tidak mungkin dipakai lagi, sopir bis pun berusaha nyariin bis lain. Entah gimana caranya, dia bisa dapet bis yang lumayan bagus. Dan akhirnya kami naik bis itu tanpa bayar sampai Magelang. Baru sampai Magelang jam 5 sore. Buset dah! hampir sehari semalem dari Bandung ke Magelang, dan penuh penderitaan.

Yang pengen saya angkat dari cerita pengalaman saya ini adalah kurangnya kesadaran untuk berhati-hati di jalan. Maksudnya, sering keselamatan dan kenyamanan dari perjalanan dikorbankan hanya gara-gara tidak mau kehilangan sedikit uang. Banyak sekali fasilitas-fasilitas transportasi yang tidak layak untuk digunakan, tapi masih saja digunakan karena dianggap masih bisa dipakai, karena malas juga untuk mengganti fasilitas tersebut. Banyak terjadi kecelakaan dalam transportasi hanya karena ada sedikit dari SOP yang tidak dijalankan, karena menganggap hal itu tidak apa-apa tidak dijalankan. Hal-hal yang dianggap sepele seperti itu sering dibayar dengan hilangnya nyawa manusia.

Hal seperti inilah yang harus lebih diperhatikan lagi oleh semua pihak. Tidak hanya pemerintah saja yang berkewajiban mengurusi hal ini, tapi kita semua. Jangan sampai korban akan bertambah terus karena kelalaian-kelalaian yang tidak perlu. Majulah transportasi Indonesia!

Postingan ini ditulis dalam rangka lomba :Share The Road”yang diadakan caplang[dot]net, RSA, dan Dijaminmurah.com

9 Responses to "Perjalanan ini terasa sangat menyedihkan.."

1 | afwan auliyar

August 27th, 2008 at 12:35 pm

Avatar

pengalaman yg sering juga saya alami kalao pulang ke daerah…..

ya mudah2an…yg seperti itu mnjdikan kita lbh sabar & kuat….

2 | Masenchipz

August 27th, 2008 at 3:03 pm

Avatar

mungkin ini istilah.. mo ngirit tapi pailit ya… he..he… layak dipake.. ternyata gak layak… trus nampol dech… biaya repairx… analisis yg mantab bro…

3 | superdevil

August 29th, 2008 at 7:30 pm

Avatar

hahahaha..
20 hours inside the d*mn bus!! i’ll never forget about it!
i hope there will be lesson learned and best practice for us..
i heard that this holiday we’ll buy tickets for our trip.. won’t we?

4 | tinktonk

August 30th, 2008 at 3:01 pm

Avatar

asik to boz…

5 | Dhimas

August 31st, 2008 at 12:27 am

Avatar

Wah ragil berhak banget komen tuh.. :lol: diceritain aja aku ketawa ngakak..

6 | Info Beasiswa

August 31st, 2008 at 12:29 am

Avatar

Biar bisa pulang dengan nyaman, buruan pesan bis sekarang juga mas enggar…

7 | superdevil

September 14th, 2008 at 10:24 pm

Avatar

wah titot kamuflase nich.. pake link info beasiswa,. hehehe

8 | Telo

September 30th, 2008 at 1:54 pm

Avatar

Kamuflase itu apaan mas? CMIIW

9 | Yasmara.id

January 19th, 2009 at 5:55 pm

Avatar

Wuihh.. uhukk.uhuukk.. ceritanya jadi bikin inget pengalaman gue aja. Saat itu keselnya minta ampun… kalau inget masih dongkol juga

Comment Form

Post By Date

July 2009
M T W T F S S
« May    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Alexa rank

TopOfBlogs
SEO Blogs - BlogCatalog Blog Directory

About

www.gareng.net adalah blog kepunyaan Enggar Subono. Saya harap pembaca dapat memperoleh manfaat dari blog ini. Mungkin blog ini masih terlalu cupu, so mohon saran dan kritik dari pembaca.

Recent Links

Quote of the day

"Gravitation is not responsible for falling people in love" (Albert Einstein)

Silahkan diisi

Pengunjung gareng[dot]net: