27 Aug, 2008
Ada yang parkir mobil di jalan, yang lagi jalan harus ikut ‘parkir’?
Posted by: Enggar In: serba-serbi
Permasalahan transportasi di Indonesia memang tak ada habisnya. Jalanan tidak bertambah, tapi kendaraan makin banyak. Jadinya timbul kemacetan. Setelah kemarin saya membahas tentang lampu lalu lintas, sekarang saya akan membahas tentang permasalahan transportasi lain, yaitu fenomena parkir di sembarang tempat. Wuih, dah kaya pakar transportasi aja nie. hihi…
Ini sebenarnya lebih sebagai curhat saya dan orang-orang yang ada di daerah tempat saya tinggal. Jadi di Bandung ada daerah yang namanya Cisitu dan disitu ada jalan namanya Jalan Cisitu lama. Jalannya tidak begitu lebar, dan satu meter dari tepi jalan sudah ada pagar-pagar rumah. Tapi jalan itu banyak digunakan baik oleh angkot maupun kendaraan pribadi. Daerah itu juga merupakan daerah kos mahasiswa.
Yang jadi masalah, jalan itu sering sekali padat dan menimbulkan kemacetan yang panjang. Bukan karena ada lampu lalu lintas yang kadang membuat lama perjalanan, tapi karena di jalan yang sempit tersebut banyak sekali mobil-mobil yang parkir di tepi jalan dan ‘memakan’ sebagian jalan. Orang-orang yang sedang ke Cisitu atau orang yang punya rumah di daerah situ sering seenaknya saja parkir mobil. Dan ini mengganggu banget! Iya kalau jalanan lagi sepi, mungkin masih gampang untuk mobil lewat. Tapi kalau lagi jam padat, waktu ada mobil yang berjalan berlawanan arah dan bertemu di tempat mobil itu parkir, ya sudah, gak bisa bergerak,soalnya terhalang mobil tadi yang hampir menggunakan setengah jalan. Dan parahnya gak cuma satu dua mobil yang parkir di situ, tapi dalam satu waktu bisa ada sekitar 6-8 mobil. Makanya sering banget di jalan itu macet.
Pernah suatu ketika saya akan pergi ke rumah temen saya yang di Cisitu Indah naik angkot. Untuk ke sana harus melewati jalan cisitu lama tadi. Ternyata belum nyampai jalan Cisitu Lama, jalan sudah macet panjang banget. Akhirnya sopir menyuruh penumpang turun dan mengembalikan sebagian ongkosnya. Saya pun harus berjalan sampai rumah teman saya itu. Dan parahnya lagi, di tepi jalan tersebut juga ada warung-warung pedagang kaki lima yang juga mepet sama jalan, dan membuat susah lagi untuk jalan kaki di tengah kemacetan seperti itu. Begitulah fenomena transportasi di Indonesia, khususnya di daerah tempat saya tinggal di Bandung.
Lalu apakah tindakan mereka yang parkir mobil di pinggir jalan seperti itu benar? Apa mereka tidak merasa bersalah sudah membuat kemacetan di jalan raya? Apa mereka tidak mempunyai kesadaran berlalu lintas? Apa mereka tidak punya rasa untuk menghormati pengguna jalan yang lain? Dan apakah hal-hal semacam itu tidak perlu diatasi? Mungkin pertanyaan-pertanyaan seperti itu yang akan muncul. Tapi kenyataannya seperti itu, dan mau gak mau hal ini harus diselesaikan, karena pastinya akan banyak orang yang dirugikan karena hal-hal seperti ini.
Pernah denger dari seseorang entah siapa, gimana kalau untuk membuat mereka tidak parkir-parkir disitu lagi, digembosin saja bannya, atau dikasih semacam gembok atau apa. Mungkin ide itu bisa saja membuat mereka jera, tapi rasanya itu juga akan menimbulkan permasalahan baru. Kalau menurut saya sih, mendingan ngomong baik-baik aja sama orang-orang yang sering parkir di situ, gimana kalau gak parkir disitu lagi. Kalau mereka bisa sadar akan hal itu, mungkin fenomena parkir memakan jalan ini tidak akan terjadi lagi. Tapi kalau misalnya gak sadar-sadar juga, disinilah pemerintah berperan. Pemerintah atau kepolisian lalu lintas harus menerapkan aturan mengenai parkir, membuat larangan untuk parkir memakan jalan seperti itu. Tentunya diberi sanksi buat orang yang melanggarnya. Karena sudah terlalu banyak kemacetan yang terjadi karena ketidaksadaran dalam hal parkir seperti ini.
Namun akan muncul pertanyaan lain, pertanyaan dari orang yang sering parkir di jalan tersebut. Kalau misalnya dilarang, mereka akan menanyakan harus parkir dimana, sementara di daerah situ tidak ada lahan parkir. Disinilah pemerintah harus berperan lagi. Kalau misalnya mungkin di daerah tersebut untuk dibangun tempat parkir, misalnya dengan membangun semacam jalan layang di atas jalan tersebut tapi untuk parkir atau membuat tempat parkir di daerah yang tidak jauh dari situ. Kalau memang sudah tidak bisa dibuat tempat parkir, rasanya memang orang yang parkir di situ harus mengalah, karena itu jalan, bukan tempat parkir.
Ternyata alat transportasi dan jalur transportasi mempunyai perbandingan yang tidak berimbang. Dan semakin lama perbandingan itu semakin tidak berimbang. Di sinilah peran kesadaran untuk berlalu lintas, kesadaran untuk saling berbagi jalan, karena dengan menghilangkan sikap-sikap egois di jalan, mau menghormati pengguna jalan lain, akan menciptakan kenyamanan dalam berlalu lintas, baik bagi diri sendiri ataupun orang lain.
—
Postingan ini ditulis dalam rangka lomba menulis “share the road” yang diadakan atas kerjasama caplang[dot]net , RSA , dan Dijaminmurah.com

Recent Comments